Sabtu, 25 Februari 2012

Menang Dalam Persaingan Bisnis


persaingan bisnis1 300x225 Menang Dalam Persaingan Bisnis
Dalam setiap bisnis, Anda tidak akan lepas dari persaingan. Apalagi jika bisnis Anda sukses, tentu pesaing-pesaing baru akan mengikuti kesuksesan Anda. Strategi yang biasa digunakan para pebisnis dalam menghadapi persaingan adalah perang harga. Masalahnya, jika Anda perang harga, maka Anda harus siap kehilangan sebagian profit. Dan perang harga yang berkepanjangan hanya akan ‘merusak’ bisnis secara keseluruhan. Bagaimana cara menghadapi persaingan dalam bisnis tanpa harus menurunkan harga ?

1. Pilih Pesaing Yang Tepat
Menghadapi persaingan membutuhkan energi, waktu dan biaya. Karena itu, sebelum melangkah lebih jauh, sebaiknya Anda menetapkan siapa pesaing Anda saat ini. Jangan sampai salah dalam menetapkan pesaing. Siapa pesaing Anda akan menentukan bagaimana cara menghadapinya. Pesaing Anda boleh jadi skala bisnis lebih kecil atau lebih besar dari Anda. Pesaing Anda juga boleh jadi tidak dari kategori bisnis yang sama dengan Anda.
2. Fokus Kepada Keunggulan Anda
Jika selama ini bisnis Anda sudah ‘jalan’, saya yakin bisnis atau produk Anda memiliki keunggulan. Buktinya ada yang beli, kan ? Menghadapi sengitnya persaingan, Anda harus focus pada keunggulan bisnis atau produk Anda. Jika misalnya keunggulan bisnis Anda terletak pada kualitas produk, maka pertahankan kualitas tersebut. Lebih baik lagi tingkatkan kualitas produk Anda. Dan dalam setiap promosi, tonjolkan saja keunggulan produk Anda tadi. Contoh lagi, kalau keunggulan Anda terletak pada kecepatan pelayanan, maka keunggulan inilah yang harus Anda pertahankan dan tingkatkan
3. Fokus Kepada Kelemahan Pesaing
Tahukah Anda apa kelemahan pesaing Anda saat ini ? Jika sudah tahu, mengapa Anda tidak menggunakan kelemahan pesaing Anda untuk kesuksesan bisnis Anda sendiri ? Sediakan untuk customer Anda apa yang tidak disediakan pesaing. Berikan customer Anda apa yang tidak diberikan pesaing Anda.
4. Belajar Dari Pengalaman
Pengalaman adalah guru terbaik. Anda bisa belajar dari pengalaman Anda sebelumnya, atau belajar dari pengalaman orang lain dalam menghadapi persaingan. Menghadapi persaingan tidak melulu urusan strategi bertindak, tapi juga bagaimana sikap dan mental Anda. Tidak ada salahkan Anda belajar kepada mereka yang berpengalaman
5. Keluar Dari Persaingan
Persaingan kadang tidak selalu harus Anda hadapi. Ada kalanya dalam kondisi tertentu, Anda harus keluar dari persaingan. Keluar dari persaingan bukan berarti menutup bisnis Anda. Keluar persaingan bisa berarti Anda mencari ceruk pasar baru, membuat produk baru, inovasi, dll
6. Berdoa
Nah, kalau ini strategi paling akhir dan harus Anda lakukan. Bagaimanapun juga, bisnis itu kan masalah rezeki. Seberapa hebatpun strategi yang Anda lakukan, hanya Tuhan saja yang menentukan hasilnya. Semoga Anda sukses dalam menghadapi persaingan bisnis. Bagaimana pendapat Anda ?
sumber: alarief.com

Pengertian Merek


logo amanah health 300x203 Pengertian Merek
Merek atau Merek dagang adalah nama atau simbol yang diasosiasikan dengan produk/jasa dan menimbulkan arti psikologis, merek juga merupakan kekayaan industri yang termasuk kekayaan intelektual, secara konvensional Merek bisa berupanama, kata, logo , desain, gambar, dan lambang.

Di dalam dunia industri yang terus berkembang dengan dinamis dan persaingan bisnis yang begitu ketat, semakin meningkatkan kesadaran para pelaku bisnis akan pentingnya sebuah merek. Bahkan karena pertimbangan merek pula yang menyebabkan Pepsi berani membeli merek dengan mengeluarkan kocek sebesar $ 1.000.000 ( sekitar 10 milyard rupiah ) pada tahun 2009.
Merek merupakan aset sangat bernilai yang disebut goodwill dan terpampang di neraca dan merek jugalah yang akan memberikan revenue di masa mendatang.
Namun apakah sejatinya sebuah merek itu ?
Pengertian merek menurut David A. Aaker adalah nama atau simbol yang bersifat membedakan ( baik berupa logo, cap/kemasan ) untuk mengidentifikasikan barang/jasa dari seorang penjual/kelompok penjual tertentu. Tanda pembeda yang digunakan suatu badan usaha sebagai penanda identitasnya dan produk barang atau jasa yang dihasilkannya kepada konsumen, dan untuk membedakan usaha tersebut maupun barang atau jasa yang dihasilkannya dari badan usaha lain.
Lalu menurut William J. Stanton merek adalah sebuah nama, istilah, simbol atau desain khusus atau beberapa kombinasi unsur. Unsur ini yang dirancang untuk mengidentifikasikan barang atau jasa yang ditawarkan oleh penjual. Maka dengan demikian bisa disimpulkan bahwa merek mempunyai dua unsur, yaitu Brand Name yang terdiri dari kata-kata yang dapat dibaca, serta Brand Mark yang berbentukSimbol atau Tanda. Merek mengandung identitas perusahaan untuk secara konsisten memberikan ciri, manfaat, dan jasa tertentu kepada pembeli. Merek juga lebih dari sekadar jaminan kualitas karena di dalamnya tercakup 6 pengertian , sebagai berikut :
  1. Atribut produk. Yang seperti halnya kualitas, gengsi, nilai jual kembali. Produk Mobil Mercedesmenyatakan dirinya sebagai sesuatu mahal, produk yang telah dibuat dengan baik, terancang dengan baik, tahan lama, bergengsi tinggi, dan lain-lain.
  2. Manfaat. Meskipun suatu merek membawa sejumlah atribut konsumen sebenarnya membeli manfaat dari produk tersebut. Dalam hal ini atribut merek diperlukan untuk diterjemahkan menjadi manfaat fungsional atau manfaat emosional. Sebagai gambaran, atribut “mahal” cenderung diterjemahkan sebagai manfaat emosional, sehingga setiap orang yang mengendarai Mobil Mercedes akan merasa dirinya penting dan sangat dihargai.
  3. Nilai. Merek juga menyatakan sesuatu tentang nilai produsen. Mobil Mercedes menyatakan produk yang punya kinerja tinggi, aman, bergengsi, dan sebagainya. Dengan demikian produsen MobilMercedes juga mendapat nilai tinggi di mata masyarakat.
  4. Budaya. Merek juga mencerminkan budaya tertentu. Mercedes mencerminkan budaya Jerman yang terorganisir, konsisten, efisien, dan sangat berkualitas tinggi.
  5. Kepribadian. Merek juga mencerminkan kepribadian tertentu. Contoh : Sering kali produk tertentu menggunakan kepribadian orang yang terkenal untuk mendongkrak atau menopang merek produknya.
  6. Konsumen. Merek menunjukkan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan produk tersebut. Pemakai Mobil Mercedes pada umumnya mencerminkan orang kaya, kalangan atas, pemilik bisnis, orang yang punya peranan penting, dan sebagainya.
Jadi, merek adalah nama, terminologi, tanda, simbol atau kombinasi di antaranya, yang ditujukan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari satu penjual atau kelompok penjual dan untuk membedakannya dari pesaing.

Beberapa Jenis merek antara lain adalah :

  • Merek Dagang
Merek dagang adalah merek yang digunakan pada barang yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan barang-barang sejenis lainnya.
  • Merek Jasa
Merek jasa adalah merek yang digunakan pada jasa yang diperdagangkan oleh seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum untuk membedakan dengan jasa-jasa sejenis lainnya.
  • Merek Kolektif
Merek kolektif adalah merek yang digunakan pada barang dan/atau jasa dengan karakteristik yang sama yang diperdagangkan oleh beberapa orang atau badan hukum secara bersama-sama untuk membedakan dengan barang dan/atau jasa sejenis lainnya. (sumber: loopscreative.com)

Fokuslah Pada Usaha Anda


fokus 300x300 Fokuslah Pada Usaha Anda
Orang yang sukses pada tujuan hidup mereka melalui perjuangan dengan cara mengatasi kendala sehingga mereka termotivasi.

Biasakan Diri Tetap Fokus
Fokus merupakan bagian terpenting untuk membantu Anda mengelola usaha dengan tepat. Fokus juga merupakan hal terpenting bagi seorang entrepreneur, pemimpin, karyawan, atau siapa saja yang menginginkan meraih sukses dalam mencapai tujuan hidup. Oleh sebab itu penting bagi Anda untuk membiasakan diri terfokus pada satu bidang saja sehingga pikiran Anda terpusat atau terkonsentrasi pada satu hal dan tidak terpecah-pecah.
Lain halnya jika Anda tidak terfokus—pada kondisi ini pikiran Anda bercampur baur pada beberapa bidang—yang mengakibatkan konsentrasi Anda terpecah-pecah dan apa yang sedang Anda kerjakan itu sifatnya setengah-setengah, atau hanya mengikuti kulit luarnya saja—tidak mengetahui secara detail dan keseluruhan. Berbeda jika pikiran Anda terfokus pada satu bidang saja, pikiran Anda akan terpusat secara utuh pada keseluruhan satu bidang yang sedang Anda kerjakan—pada kondisi ini tenaga dan pikiran Anda benar-benar terkuras/terpusat pada satu hal saja.
Berkaitan dengan dunia bisnis, seorang pengusaha atau pemimpin yang memusatkan tenaga, pikiran dan perhatiannya sepenuhnya pada “bidang usaha” yang tengah digarapnya tentu akan mudah mencapai sukses. Sering kali kita mendengar keluhan klise dari mulut seorang pengusaha suatu ketika ia mengeluh bisnisnya mengalami masalah. Maka dengan cepat mereka langsung mengomentari bahwa core businessnya tidak terfokus.
Boleh saja Anda menangani berbagai bisnis, misalnya mengelola salon, elektronik dan ritail sekaligus. Tetapi pikirkanlah akibatnya, karena sifat manusia tidak pernah lepas dari keserakahan, selalu saja merasa “ingin lebih”. Coba renungkan dan pikirkan, dalam bisnis sikap semacam ini tidak bisa Anda terapkan. Sebab dengan bertambahnya banyaknya bidang bisnis yang Anda masuki akan membuat waktu dan pikiran Anda tersita dan super sibuk.
Akibatnya?Waktu dan tenaga Anda akan terasa kurang. Kecuali Anda mampu mendelegasikan pucuk pimpinan dari bidang usaha yang berbeda bidang itu kepada orang kepercayaan Anda. Tapi kalau tidak bisa, sadarilah secepatnya, agar Anda untuk kembali pada core business saja.
Andaipun Anda ingin melakukan ekspansi atau diversifikasi usaha, sebaiknya Anda masuk pada bidang usaha yang masih berhubungan dengan bisnis inti Anda sehingga memudahkan Anda untuk melakukan sinergi bisnis secara bersamaan. Contohnya, jika Anda seorang pengusaha rumah makan jika ingin melakukan peluasan usaha pilihan lahan yang masih ada hubungannya dengan bisnis rumah makan_misal Anda menambahkan divisi catering atau mendirikan café atau restoran bertaraf internasional. Hal ini akan mudah Anda lakukan secara bersamaan dan efisien waktu dan tenaga Anda.
Banyak pengalaman dari beberapa pengusaha yang mengerjakan berbagai kegiatan usaha, bukannya untung tapi malah buntung. Niatnya mungkin ingin menguasai semua sector bisnis. Buanglah anggapan keliru semacam itu. Yang benar adalah apabila bisnis Anda pada satu bidang saja akan membuat seseorang semakin kuat (menghadapi pelanggan, rintangan,dan segala permasalahannya).
Akan lebih baik lagi jika Anda membuka usaha sesuai dengan keinginan, minat, pendidikan yang Anda kuasai. Atau menggali keunikan yang ada pada diri Anda untuk kemudian Anda kembangkan sebagai usaha, jika Anda serius melakukannya jalan menuju sukses tentu akan mudah Anda lalui.
Perusahaan yang bijaksana adalah perusahaan yang terfokus. Ingat pepatah kuno: Jika Anda mengejar dua ekor kambing sekaligus, maka kedua-duanya akan kabur. Begitu juga dalam bisnis,pilihlah celah bisnis yang dapat memenuhi kebutuhan mereka karena jika Anda bisa memilih sasaran bisnis yang lebih baik dari pesaing-pesaing maka Anda akan menjadi pemenang atau Anda akan “tersisih”?
Penting buat Anda yang sedang melakukan usaha baru, pikirkanlah beberapa saat kemudian putuskanlah “satu” bidang usaha yang ingin Anda masuki, dari sepuluh “angan-angan” Anda tentu tidak bisa semua bidang ingin Anda masuki, jadi pilihlah satu bidang saja—carilah satu bidang usaha yang Anda rasa dan Anda pikirkan “tepat” bagi diri dan potensial Anda.
Tapi jangan sekali-kali Anda memfokuskan pilihan Anda pada kelemahan-kelemahan Anda, karena itu jangan pernah membanding-bandingkan kelemahan-kelemahan diri Anda dengan orang lain—Maksudnya disini : Anda jangan latah meniru bisnis orang lain yang sukses disatu bidang karena belum tentu bidang yang sukses dilakukan orang tersebut Anda mengerti.
sumber: connecti.biz

Istilah-istilah Dalam Dunia Marketing


istilah dunia marketing 225x300 Istilah istilah Dalam Dunia Marketing
Sejumlah mahasiswa bertanya pada dosennya tentang arti dari beberapa istilah dalam dunia marketing.  Agar lebih mudah dipahami ia menjelaskannya dengan sejumlah analogi:

1. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!” Itu namanya Direct Marketing.
2. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Salah satu temanmu menghampirinya. Sambil menunjuk ke arah kamu, temanmu itu berkata, “Dia orang kaya, nikah sama dia, ya!” Itu namanyaAdvertising.
3. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, lalu minta nomor HP. Esok harinya kamu telepon dia dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!” Itu namanya Telemarketing.
4. Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu merapikan diri, lalu menuangkan minuman buat dia, dan membukakan pintu buat dia. Sambil mengantarnya pulang, kamu bilang, “By the way, saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!” Itu namanya Public Relations.
5. Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Dia menghampiri kamu dan berkata, “Kamu orang kaya, kan? Nikah sama saya, yuk!’ Itu namanya Brand Recognition.
6. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!”, tapi dia malah menampar kamu. Itu namanya Customer Feedback.
7. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!”, terus dia memperkenalkan kamu ke suaminya. Itu namanya Demand and Supply Gap.
8. Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, tapi belum juga kamu sempat bilang apa-apa, ada pria lain datang dan
langsung berkata, “Saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!’ Lalu sang gadis pergi dengan pria tersebut. Itu namanya Losing Market Share.

9. Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, tapi belum juga kamu sempat bilang, “Saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!’…. tiba-tiba istri kamu nongol! Itu namanya Barrier to New Market Entry.

sumber: kaskus.us

Cara Mengalahkan Pesaing Besar


competisi bisnis1 300x192 Cara Mengalahkan Pesaing BesarPada tahun 1950 an, semuanya tentang Unique Selling Proposition atau USP yang berfokus kepada feature dari produk dan keuntungan penggunaan dari produk tersebut. Di tahun 1960 an sampai tahun 1970 an, image dari suatu produk itu sangat penting. Di tahun 1972, Al Ries dan Jack Trout mengembangkan konsep Positioning yang populer hingga saat ini. Mereka percaya bahwa persepsi terhadap suatu produk di benak para konsumen lebih penting dari kenyataan (realitas) solid dari atribut-atribut produk tersebut. Apa yang konsumen percayai adalah kenyataan itu sendiri. Lebih jauh, mereka menyatakan bahwa ada 10 aturan dari positioning yang mereka percaya dapat membuat suatu produk atau servis unggul:
1. Renggut kata kunci di benak konsumen Anda! Jika Anda mampu memaparkan keunggulan produk Anda di benak konsumen Anda, maka konsumen Anda secara tidak sadar akan mengatributkan keunggulan atau hal positif lainnya pada produk Anda tersebut. FedEx berarti “Pengiriman dalam Semalam”. Suatu perusahaan hanya mampu memiliki satu kata kunci saja di benak konsumen dan segera setelah kata kunci tersebut berhasil Anda tempatkan di benak mereka, sangat sulit untuk merubah persepsi tersebut.
2. Positioning dimulai dari nama produk Anda! Nama dari produk Anda hendaknya mampu menggambarkan sesuatu di benak konsumen dan lebih baik lagi kalau nama produk Anda tersebut bisa menggambarkan keuntungannya sekaligus. Semisal, Draino membuka saluran pengurasan di rumah Anda yang tersumbat.
3. Kalau Anda sedang memproduksi suatu produk yang unik, gunakanlah nama baru! Alih-alih menggunakan kata Apple Mini Mac, Apple menggunakan nama iPod untuk menamai produk music player mereka yang terbaru.
4. Cara termudah untuk merenggut kata kunci di benak konsumen Anda adalah dengan menjadi pelopor! Para konsumen cenderung loyal pada produk yang benar-benar mengerti kesulitan mereka. Semisal, Kleenex membersihkan hidung yang meler/tersumbat akibat flu.
5. Jangan melenceng dari pesan yang Anda coba sampaikan melalui produk Anda; “perkuatlah konsep dasar” di semua aktivitas pemasaran. Semisal, “Coke Classic adalah Coke sesungguhnya!”
6. Cara terbaik untuk menghadapi pesaing baru adalah dengan memperkenalkan brand baru, bukan dengan mengaburkan produk Anda yang telah lama dijual. Ketika air mineral dalam kemasan botol menjadi populer, Coke tidak menamakan produk mereka Coke Water tapi mereka menamainya Dasani.
7. Opsi pertama pendatang baru di pasar adalah dengan membuat produk dengan kategori baru. Produk dengan brand yang telah lama berdiri sangat sukar untuk dikalahkan tetapi para konsumen dapat menerima produk dengan kategori baru lebih mudah. Semisal, Charles Schwab mendirikan kategori diskon broker.
8. Opsi kedua untuk pendatang baru di pasar adalah dengan menemukan celah di benak konsumen. Semisal, Starbucks terkenal sebagai brand premium yang mengusung servis super cepat untuk kopi.
9. Opsi ketiga untuk pendatang baru di pasar adalah dengan me-repositioning pesaing di benak konsumen loyal mereka. Tylenol pernah membuat pernyataan, “Kalau perut Anda sakit, konsultasikan ke dokter terlebih dahulu sebelum meminum aspirin.”
10. Tetaplah konsisten dengan positioning yang Anda pilih.
sumber : kaskus

Tujuan, Cara Membentuk dan Kriteria Segmentasi Pasar


segmentasi pasar 300x225 Tujuan, Cara Membentuk dan Kriteria Segmentasi Pasar
Secara umum segmentasi mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan posisi kompetisi perusahaan dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada konsumen.

Selain tujuan utama tersebut terdapat tujuan-tujuan yang lebih sempit seperti, meningkatkan penjualan, memperbaiki pangsa pasar, melakukan komunikasi dan promosi yang lebih baik, dan memperkuat citra. Setidaknya terdapat 5 keuntungan yang dapat diperoleh dengan melakukan segmentasi pasar yaitu :
1. Menganalisis pasar ; dengan tujuan agar membantu perusahaan segmentasi pasar dan mendeteksi siapa saja yang menyerang pasar produknya.
2. Mendesign produk-produk yang lebih responsif terhadap kebutuhan pasar. Perusahaan menempatkan konsumen di tempat yang utama, dan menyesuaikan produknya untuk memuaskannya (customer has satisfaction at a profit)
3. Menilai peluang ; Setelah menganalisis pasar, perusahaan yang menguasai konsep segmentasi dengan baik akan sampai pada ide untuk menemukan peluang. Peluang ini tidak selalu sesuatu yang besar, tetapi pada masanya akan menjadi besar.
4. Menguasai posisi yang superior dan kompetitif. Perusahaan yang menguasai segmen dengan baik umumnya adalah mereka yang paham betul konsumennya. Perusahaan memahami pergeseran-pergeseran yang terjadi di dalam segmennya.
5. Menentukan strategi komunikasi yang efektif dan efisien. Setelah mengetahui segmen yang dituju, maka perusahaan akan menentukan bagaimana bisa berkomunikasi yang baik dengan segmen pasar yang dituju.
Nah , untuk dapat membentuk dan menentukan suatu segmentasi dapat dilakukan dengan menyesuaikan kondisi yang paling relevan. Konsumen mempunyai perbedaan dalam banyak hal dan masing-masing berpotensi membentuk segmen, namun pada kenyataannya tidak semua variabel ini akan bermanfaat untuk semua situasi. Sebagai contoh untuk consumer markets variables yang sesuai adalahdemographic, geographic, socio economic, dan psichographics. Masing-masing variabel tersebut dapat digunakan untuk menentukan sebuah segmentasi namun harus dipilih dengan hati-hati agar sesuai dengan produk yang akan diteliti segmentasinya dan disesuaikan dengan kondisi yang paling relevan.
Melalui beberapa riset , pe-Riset berusaha membentuk segmen dengan mengamati ciri-ciri konsumen. Biasanya yang digunakan adalah demografis, ciri-ciri geografis dan psikografis .
Segmentasi Geografis membagi pasar menjadi unit-unit geografis yang berbeda seperti negara, negara bagian, propinsi, kota, atau lingkungan. Segmentasi demografis dibagi menjadi kelompok-kelompok berdasarkan variabel-variabel demografis seperti, usia, ukuran keluarga, siklus hidup keluarga, jenis kelamin, penghasilan, pekerjaan, pendidikan, agama, ras, generasi, kewarganegaraan, dan kelas sosial. Sementara segmentasi psikografis membagi kelompok yang berbeda bersadarkan kelas sosial, gaya hidup, dan kepribadian.
Seperti yang diulas pada beberapa Artikel Marketing sebelumnya bahwa terdapat beberapa pilihan segmentasi, namun seperti apa sih segmentasi yang baik ? Untuk itu sebelum suatu segmen dipilih, maka selayaknya ditentukan terlebih dahulu beberapa kriteria yang harus dipenuhi, Yang antara lain sebagai berikut:
1. Dapat diukur. Ukuran, daya beli, dan profil segmen dapat diukur.
2. Harus Besar. segmen cukup besar dan menguntungkan untuk dilayani. Suatu segmen harus merupakan kelompok homogen terbesar yang paling mungkin, yang berharga untuk diraih dengan program pemasaran yang dirancang khusus untuk mereka.
3. Mudah diakses. Segmen dapat dijangkau dan dilayani dengan efektif.
4. Bisa dibedakan. Segmen-segmen secara konseptual dapat dipisah-pisahkan , memberikan tanggapan yang berbeda terhadap elemen dan pembauran pemasaran yang berbeda. Contoh : Jika wanita yang telah menikah dan belum menikah memberi tanggapan yang sama atas penjualan parfum, mereka bukanlah segmen yang terpisah.
5. Fleksibel. Program-program yang efektif dapat dirumuskan untuk menarik dan melayani segmen-segmen tersebut.

Bisnis Bergerak Dengan Logikanya Sendiri


bisnis 300x232 Bisnis Bergerak Dengan Logikanya SendiriKonon ada sentimen yang sangat keras antara bangsa Yahudi dan bangsa Arab.  Karena sentimen inilah ada seorang pengusaha Yahudi bernama Moshe membuka usaha restoran di kota london dengan mencantumkan di depan retorannya sebuah pengumuman yang berbunyi : ”Maaf, restoran ini tidak melayani bangsa arab”.
Selang beberapa hari datanglah seorang arab yang masuk ke restoran tersebut dan memesan sandwich. Bingunglah pelayan restoran itu, dan segera tergesa-gesa menemui Moshe sang majikannya.  Pelayan tersebut menanyakan bagaimana cara mengusir orang arab tadi. Moshe juga bingung sehingga mengambil keputusan
” begini… layani saja tapi tagih dia  dua kali lipat,  agar dia jera dan tak kembali lagi
Ternyata perkiraan Moshe salah, karena beberapa hari kemudian orang arab ini datang lagi ke restorannya bersama empat orang temannya. Moshe menaikkan harganya tiga kali lipat. Dan orang arab ini tidak marah. Setelah melihat bon-nya, menyampaikan terima kasih dan pergi. ”Gila benar si Arab ini”kata Moshe. Namanya pengusaha maka terlupakanlah fanatisme, sentimen, nasionalismenya. Bisnis is binis. Melayani orang arab yang sebelumnya dihindari ternyata lebih mengutungkan. Akhirnya Moshe berharap pelanggannya yang orang arab tersebut datang kembali mengunjungi restorannya.
Benar, akhirnya si arab datang lagi bersama sepuluh temannya. Pelayannya bertanya kepada Moshe
”sekarang berapa kali lipat bos”.
Giliran Moshe hati-hati
”tunggu dulu..kita jangan sampai kehilangan pelanggan ini. Tiga kali lipat saja dan kasih diskon 20%”.
Pelayannya bingung dan bertanya ” Bagaimana dengan solidaritas kita sebagai bangsa Yahudi. Arab adalah musuh kita bos”. ” ahhh Sudahlah” kata Moshe. ” kita kan bukan orang politik. Biarlah permusuhan ini menjadi urusan politikus. Kita saat ini mengurusi bisnis kita sendiri lanjut Moshe.
Pelayan yang masih idealis tersebut bertambah bingung namun tak bisa berbuat banyak. Bos is bos. Aturan pertama, bos tak pernah salah. Aturan kedua, Kalau bos salah lihat aturan pertama. (He he he …. candaan lama)
Tiga kali lipat kan. Ok tidak masalah” kata si Arab membayar tagihan tanpa mengeluh. Bahkan diskon 20% diberikan kepada pelayan. Giliran idealisme pelayan yang rontok berguguran. ”Iya ya… untuk apa idealisme dan nasionalisme Yahudi? Permusuhan Yahudi Arab bukan urusan seorang pelayan restoran” kata si pelayan.  Akhirnya Moshe dan pelayan bersepakat untuk melepas pengumunan di depan restorannya yang bertuliskan : ”Maaf, restoran ini tidak melayani bangsa arab”.
Cerita diatas memberikan pelajaran kepada kita, bagaimana menjadi seorang marketer. Marketing intinya adalah relatioship. Dengan jalinan relationship yang baik maka hubungan transaksi jual beli akan berjalan secara berkelanjutan. Maka itu setiap pemasar harus menekan dalam-dalam egoismenya.
Seorang pemasar akan selalu berhubungan dengan orang lain, baik itu orang-orang yang berada dijalur distribusi produknya  maupun orang-orang yang langsung menjadi customernya. Berbagai karakter orang harus dihadapi setiap hari oleh seorang marketer.  Mulai dari karakter yang menyenangkan, mengasyikkan, menyebalkan bahkan sampai yang menyakitkan. Namun berbagai karakter yang dihadapi tersebut tidak boleh mengacaukan tujuan utama yakni penjualan yang menghasilkan profit. Seorang marketer tidak dibolehkan menjalin hubungan berdasarkan suka atau tidak suka karena karakter seseorang, status sosial, suku, agama dan ras. Bagaimanapun menjengkelkannya seseoarang jika memberikan profit maka harus tetap selalu dipertahankan.
Jadi seorang sales atau penjual itu gampang-gampang susah, seringkali seorang penjual menggerutu ketika mendapatkan seorang pelanggan yang susah, tapi tidak jarang seorang penjual mendapatkan keuntungan besar dalam penjualan produk yang dijualnya. Keberhasilan seorang penjual bukan hanya dari keberuntungan semata tapi dari bagaimana cara seorang penjual bersikap terhadap seorang pelanggan.
Manusia mempunyai tipe yang berbeda-beda, oleh karena itu sangat perlu sekali mengetahui tipe-tipe manusia tersebut agar dapat mengetahui bagaimana pendekatannya pada mereka. Banyak teori yang menggolong-golongkan tentang tipe-tipe manusia ini dalam usaha meningkatkan penjualan. Ada teori dari NLP (Neuro-Linguistic Programming) yang menggolongkan tipe manusia menjadi tipe visual, auditory dan kinesthetic. Tony Alessandra dan Michael J. O’Connor menggolongkan tipe manusia menjadi tipe direktur, ahli pergaulan, ahli hubungan dan tipe pemikir.  Galen menggolongkan Tipe manusia mejadi Tipe Sanguin, Kolerik, Plegmatik dan melankolik. Sedangkan James Gwee dalam bukunya Selling With Empatymenggolongkan tipe manusia menjadi tipe penggerak, tipe peresah, tipe seniman, tipe politikus, tipe insinyur, tipe penggiat dan tipe normal. Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa nama tipe-tipe diatas bukanlah profesi mereka tapi hanyalah sebagai julukan bagi mereka saja
Disinilah letak menarik dan tantangannya menjadi seorang marketer. Seorang marketer  boleh tidak suka, boleh benci  kepada seseorang, tapi karena alasan bisnis maka tetap harus melayaninya dengan sepenuh hati. Bisnis akan selalu bergerak sesuai dengan logikanya sendiri. Dan profitable bisnis relationship adalah pondasi kokoh agar bisnis berjalan secara berkelanjutan. Dan dari sinilah dikembangkan konsep-konsep marketing bisnis mutakhir seperti Customer Relationship Management, experiential marketing, spiritual marketing, blue ocean strategy dll. (sumber: berikwicaksono.com)